Sabtu, 07 September 2019

Aku dan Langit

Langit malam yang hitam penuh dengan kegelapan, namun tetap indah dipandang meskipun dia sepi dan meskipun ditemani bulan dan bintang.

Aku berjalan sambil sesekali menatap langit yang sepi tanpa ada bintang dan bulan, ya sama halnya dengan diriku, aku sendiri dimalam yang dingin ini. Sesekali kulihat langit dan berkata “ hai langit kok kamu masih terlihat bahagia dan cerah padahal kan kamu sendiri tanpa bintang dan bulan ?” ucap aku.

Keesokan paginya ku buka mataku dan kuberlari pergi keluar untuk menyapa langit, ya begitulah kebiasaanku setiap hari. Kutatap langit lekat-lekat dan kukatakan “ pagi langit apa kabar kamu pagi ini, aku rasa kamu baik-baik saja sangat terlihat dari cerahnya kamu hari ini” ucap aku sambil tersenyum memandang langit.

Ku jalani aktivitas ku seperti biasa pergi kuliah pagi. Ya aku selalu menjadwalkan kuliahku pada pagi hari, karena aku tidak mau melewatkan senyum langit yang ditemani oleh matahari dan awan yang begitu cerah pada pagi harinya.

Aktivitas ku sangat membosankan dimana pagi aku kuliah hingga siang ataupun sore dan aku langsung pulang untuk istirahat karena pada malam harinya aku bekerja, tidak ada yang namanya main-main ataupun hangout karena aku sendiri disini.

Aku bekerja sambil kuliah, bukannya aku tidak mampu hanya saja aku tidak mau menjadi beban bagi orang tuaku. Aku yang jauh dari ayah dan ibu, aku yang tinggal dikota pergi merantau dari kampung untuk menempuh pendidikan yang lebih layak. Aku tau ayah dan ibu selalu memberikan uang bulanan kepada ku tapi itu tidaklah cukup yang dimana hidup dikota berbeda dengan dikampung, seperti yang dikatakan ibukota lebih kejam dibandingkan ibu tiri. Ayah dan ibu tidak tau aku bekerja karena mereka melarangku berkerja dan aku tidak mau membuat mereka sedih dan kecewa.

Sepulang kuliah aku duduk ditaman sambil membaca buku dan sesekali memandang bunga-bunga yang terlihat bahagia karena indahnya mereka, dan pastinya aku tak lupa memandangi langit. Pada saat aku memandang langit, aku bingung kenapa tiba-tiba langit terlihat begitu sedih dengan mendungnya dia dan terlihat seperti mau menangis. Ternyata dugaanku benar, langit menangis dan aku terus memandanginya tanpa beranjak dari tempat dudukku, meskipun orang-orang berlari-lari untuk menghindari air mata langit. Aku tidak mau pergi, aku tidak bisa meninggalkan langit disaat ia sedih dan akhirnya langit berhenti menangis dan aku pun diselimuti oleh air mata langit hingga aku kedinginan.

Sampai akhirnya aku melihat langit tersenyum kembali dengan ditemani oleh pelangi yang begitu indah, meskipun pelangi hanya datang sebentar tapi ia telah menghibur langit dan membuat langit tersenyum kembali ya itu memang klise tapi itu kenyataanya dan meskipun matahari pergi pada sore harinya langit tetap tersenyum dengan cerahnya sambil menunggu bintang dan bulan meskipun ia tidak tau apakah mereka dating atau tidak.

Keesokan paginya aku pun melakukan rutinitas ku seperti biasa dengan diawali menyapa langit dan dengan perasaan yang berbeda. Aku tak tau mengapa ? aku merasa jauh lebih bahagia.

Kunikmati kuliah pagiku dan istirahat dikantin kampus dengan menyantap nasi goreng ditemani teh panas karena aku tidak sarapan pada pagi hari hingga nafsu makanku begitu lahap. Tiba-tiba teman ku menghampiriku ya aku punya teman, meskipun itu hanya satu tapi dia selalu baik dan perhatian denganku, karna aku yang tidak begitu bisa dekat dengan orang lain.

Dia menghampiriku dengan wajah yang bingung, ya pastinya dia bingung karena selama aku kuliah disini bisa dihitung jari aku makan dikantin kampus dan itu dengan alasan mendesak. Dan kali ini aku makan dikantin kampus, hingga dia bertanya “loe sehat ?” sambil meletakkan tangannya kedahiku. Ya aku hanya tersenyum.

Pulang kuliah aku berjalan sambil mendengarkan lagu dengan kupasangkan earphone pada telinga ku dan memutarkan lagu Bagaikan Langit dari Potret, aku bersenandung  ♫ bagaikan langit disore hari, berwarna biru sebiru hatiku, menanti kabar yang aku tunggu, peluk dan cium hangatnya untukku ♫.


Hingga aku berhenti ditempat yang selalu buat aku nyaman baik itu disaat aku sedih maupun bahagia dan itulah taman. Aku tidak tau kenapa disini benar-benar nyaman, meskipun sesekali di taman terkadang ramai disinggahi oleh para pemuda-pemudi yang berpacaran dan terkadang taman juga sepi. Dan ditaman aku bisa melihat bunga-bunga yang begitu tampak bahagia hingga aku terhipnotis bahagia dibuatnya.

Perasaan ku kali ini benar-benar berbeda, disaat disini aku selalu merasa bahwa aku hanya sendiri dan selalu sedih. Dan sekarang entah kenapa aku merasa bahagia dan sangat sangat nyaman dengan diriku sendiri. Mulai dari pagi aku tersenyum hingga ke kampus dan makan dikantin yang dimana aku jarang sekali makan dikantin.

Aku memandangi langit dan tersenyum, kini aku tau aku kenapa, ada apa dengan diriku dan aku merasa bahwa ada yang selalu bersamaku, aku merasa bahwa ada yang memperhatikanku dan aku merasa bahwa aku tidak sendiri. Dan itu langit.

Dari langit aku belajar apa arti sendiri itu, dari langit aku belajar apa itu kesedihan dan dari langit pun aku belajar apa itu kebahagiaan. Teryata sendiri itu bukan berarti kita sendiri namun selalu ada yang menemani kita meskipun itu tidak terlihat ya itu langit dia yang selalu menemaniku disaat aku sendiri, sedih maupun bahagia.

Bahagialah ketika langit memperhatikan mu dengan senyum yang cerah maupun dengan kesedihannya.Sedihlah jika tidak bisa melihat langit dan menangislah jika langit tak bersamamu.Kamu tidak sendiri langit bersamamu.

Terimakasih Langit.

Aku dan Langit.